Hari Berikutnya di yogyakarta bingung mau kemana ! tanya-tanya warga sekitar mereka menyarankan pergi ke jalan malioboro disana ada objek wisata murah namanya Taman Pintar yang tidak jauh dari jalan malioboro, Sepakat kami kesana kami bergegas mengunakan transjogja. sesampainya dilokasi ternyata hari tersebut tutup,
Dengan rasa kecewa kami berjalan tak tentu arah dan disana tanpa sengaja ada Museum Benteng Vredeburg tanpa pikir panjang dari pada jenuh mending kami masuk dan belajar mengetahui sejarah berdirinya musium ini.
Bentenng Vredeburg Menurut sejarah berkaitan erat dengan lahirnya kesultanan Yogyakarta, Pada tanggal 13 februari 1955 Belanda berhasil menyelesaikan perseteruan antara Pakubuowono III dengan Pangeran Mangkubumi (yang kelak menjadi Sultan Hamengku Buwono I) dalam Perjanjian Giyanti.
Belanda merasa tidak nyaman dengan berkembangnya kraton yang didirikan sultan Hamengku Buwono I, maka dari itu Mereka mengusulkan agar didirikan sebuah benteng yang dekat dengan kraton dengan tujuan menjaga keamanan kraton dan sekitarnya, padahal tujuan utamanya mengontrol segala perkembangan yang terjadi dikraton, dan untuk berjaga-jaga jika Kraton memusuhi Belanda.
Pada tahun 1760-1765 dibangun benteng yang sedehana nberbentuk bujur sangkar, setiap sudut dibuat tempat penjagaan yang disebut seleka atau bastion. Oleh sultan diberi nama Jayawisesa (sudut Barat), Jayapurusa (sudut Timur Laut), Jayaprakosaningprang (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).
Pada tahun 1765 Benteng diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen dibuat oleh Ir Frans Haak. Pada awalnya tanah ini milik kesultanan dan dihibahkan kepada Belanda VOC.
Pada Masa Penjajahan Jepang tepatnya pada tanggal 7 maret 1942 memberlakukan UU nomor 1 tahun 1942 bahwa pimpinan daerah tetap diakui tetapi berada dibawah pengawasan Gubernur Jepang. Pusat kekuatan jepang bermarkas di Benteng Vredeburg, disini juga terkenal dengan tentara pilihan yang keras dan kejam yang disebut kempeitei. Disamping benteng Vredeburg digunakan sebagai tempat tahanan Belanda, Indo Belanda dan juga kaum pilitisi Indonesia yang ditangkap. Benteng ini juga sebagai tempat penyimpanan persenjataan dan gudang mesiu. Penguasaan Jepang atas Benteng ini Berlangsung dari tahun 1942 sampai tahun 1945.
Tahun 1945 Benteng Vredeburg dikuasai oleh Rakyat Indonesia kemudian dipergunakan sebagai asrama dan markas pasukan yang tergabung dengan kode staf Q dibawah komandan Letnan Muda I Radio dan difungsikan juga sebagai gudang perbekalan termaksud senjata, mesiu dan lain -lain.
pada tahun 1946 komplek Benteng Vredeburg didirikan rumah sakit tentara untuk korban pertempuran.
Terjadi agresi Militer II 1948 Benteng Vredeburg berhasil dikuasai Belanda dan digunakan sebagai markas tentara Belanda dan juga sebagai penyimpanan senjata berat seperti tank, panser dan kendaraan Militer.
Serangan umum 1 maret 1949 kurang lebih 6 jam kota yogyakarta dapat dikuasai oleh TNI beserta Rakyat Pejuang. Setelah Beanda meninggalkan kota Yogyakarta , Benteng Vredeburg dikuasai oleh APRI( Angkatan Perang Republik Indonesia) dan penngelolahan benteng Vredeburg diserahkan kepada Militer Akademi Yogyakarta.
Lembaga studi Pedesaan dan Universitas Gadjah Mada Merencanakan pelestarian dan Studi Kelayakan bangunan Benteng Vredeburg pada Tahun 1976.
Tahun 1978 Benteng ini digunakan sebagai ajang Jambore Seni, pendidikan dan latihan Dediklat POLRI, dan juga Sebagai markas Garnisun 072 serta Markas TNI AD Batalyon 403.
Pihak HANKAM menyerahkan penguasaan dan pengelolaan Benteng ini kepada Pemerintahan Daerah Yogyakarta pada tanggal 9 Agustus 1980 dengan disertai penandatanganan piagam perjanjian pemanfaatan bangunan Benteng Vredeburg oleh Sri Sultan HB IX dan Mendibud Dr Daoed Joesoef.
Benteng Vredeburg merupakan bangunan bersejarah yang sangat besar artinya maka pada tahun 1981 ditetakan sebagai cagar budaya berdasarkan ketetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
Setelah puas mengelilingi dan membaca sejarah mengenai benteng ini kami berencana membeli suvenir yang tidak jauh dari lokasi ini ketemu lah toko suvenir yang lumayan besar dan lengkap di jalan malioboro
Setelah membeli suvenir kami lanjutkan menglilingi malioboro, kami mulai menikmati suasana malam dimalioboro dengan seniman-seniman dijalan, disini penuh dengan beragam pelancong ada yang dari luar kota bahkan sampai luar negri pun banyak kumpul disini dan menikmati wisata kuliner. setelah kami puas membeli oleh2 dan makan kami pulang kehotel dengan mengunakan transjogya, angkutan ini sangat membantu kami untuk mengelilingi jogya smoga transport ini lebih ditingkatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar